BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang MasalahKemajuan tekhnologi dan informasi yang semakin berkembang membuat perusahaan-perusahaan berusaha meningkatkan kualitas produknya menjadi lebih baik. Semua ini dilakukan agar perusahaan lebih kompetitif dari perusahaan lainnya. Pada saat ini perusahaan harus lebih fleksibel di zaman yang selalu berubah, ini akan menjadi suatu dorongan bagi perusahaan untuk selalu meningkatkan produk yang dihasilkannya baik dari segi kualitas maupun ragam produknya. Upaya yang harus dilakukan perusahaan dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen serta mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan adalah dengan melakukan strategi pemasaran yang tepat dan terarah, seperti meningkatkan atribut produk, kebijakan harga, mendesain dan memilih saluran distribusi yang tepat untuk menghadapi persaingan yang ketat pada saat ini.Sepeda motor adalah salah satu alternatif bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain secara mudah, irit, cepat, luwes, efisien, dan lain sebagagainya. Bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah, motor menjadi harapan satu-satunya untuk dapat memiliki alat transportasi darat pribadi sesuai dengan kemampuan ekonominya. Mobil yang memiliki harga jual dan biaya operasional mahal / tinggi serasa tidak mungkin terjangkau oleh banyak rakyat ekonomi menengah ke bawah.Peter drucker seperti dikutip oleh Philip kotler dalam buku “Manajemen Pemasaran” : endefinisikan pemasaran (2005:10) mengatakan bahwa “Tujuan pemasaran adalah membuat penjualan tidak terlalu penting lagi”. Tujuan pemasaran adalah mengetahui dan memahami pelanggan dengan baik sehingga produk atau jasa itu cocok dengan pelanggan dan selanjutnya mampu menjual dirinya sendiri. Idealnya, pemasaran harus menghasilkan pelanggan yang siap membeli. Dalam kata lain, penjualan bukanlah target utama perusahaan adalah
untuk mengetahui produk apa yang diperlukan oleh pasar saat ini, dan menemukan konsumen yang membutuhkannya.
2. Rumusan Masalah.
Apakah pengaruh desain produk, mempengaruhi prilaku konsumen dalam membeli sepeda motor merek Yamaha?2. Apakah prilaku konsumen dalam memutuskan membeli sepeda motor merek Yamaha dipengaruhi oleh desain produk?3. Seberapa besar pengaruh desain produk terhadap prilaku konsumen dalam membeli sepada motor merek yamaha?
3. Tujuan Penelitian
• 1.Untuk mengkaji Apakah pengaruh desain produk, mempengaruhi prilaku konsumen dalam membeli sepeda motor merek Yamaha?
• 2.Untuk mengkaji Apakah prilaku konsumen dalam memutuskan membeli sepeda motor merek Yamaha dipengaruhi oleh desain produk?
• 3.Untuk mengetahui Seberapa besar pengaruh desain produk terhadap prilaku konsumen dalam membeli sepada motor merek Yamaha?
BAB II
LANDASAN TEORI
1.Pemasaran (Marketing)
Kegiatan pemasaran merupakan kegiatan bisnis yang berbeda dengan kegiatan bisnis lainnya. Pada kegiatan pemasaran para manajer berurusan dengan konsumen, baik konsumen intern perusahaan maupun konsumen ekstern perusahaan.Para manajer dituntut untuk dapat memahami konsumen, dengan demikian para manajer dapat menyediakan produk atau jasa yang sesuai dengan keinginankonsumen. Tidak hanya sampai di situ saja, para manajer harus mampu menciptakan komunikasi yang efektif dengan konsumennya sehubungan dengan
produk atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan yang dipimpinnya. Selain itu, para manajer harus mampu menggerakkan perusahaannya untuk mengantarkan produk atau jasa sampai dinikmati oleh konsumen. Tujuan akhir dari semua kegiatan itu agar tercipta kepuasan konsumen, yaitu seluruh komponen yang terlibat dengan kegiatan bisnis perusahaan, sehingga kegiatan tersebut dapat menguntungkan perusahaan dan stakeholdernya.
1. Lingkungan KonsumenMenurut Peter dan Olson (1999, hal 247) mengartikan lingkungan konsumen terbagi dalam dua macam, yaitu lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Lingkungan sosial adalah semua interaksi sosial yang terjadi antara konsumen dengan orang sekelilingnya atau antara banyak orang. Atau orang-orang lain yang berada disekeliling konsumen dan termasuk perilaku dari orang-orang tersebut
2. Keputusan Pembelian KonsumenKeputusan pembelian menurut Engel, Blackwell dan Miniard (2000:32) terdiri dari beberapa langkah yaitu Pengenalan kebutuhan, Pencarian Informasi, Evaluasi Alternatif, Pembelian, Hasil.
• Pengenalan Kebutuhan ;Menurut Engel, Blackwell dan Miniard (2000:31), pada tahap ini, konsumen mempresepsikan perbedaan antara keadaan yang diinginkan dan situasi aktual yang memadai untuk membangkitkan dan mengaktifkan proses keputusan.
• Pencarian informasi; Menurut Engel, Blackwell dan Miniard (2000:31), pada tahap ini, konsumen mencari informasi yang disimpan di dalam ingatan (pencarian internal) atau mendapatkan informasi yang relevan dengan keputusan dari lingkungan (pencarian eksternal).
• Evaluasi Alternatif ; Menurut Engel, Blackwell dan Miniard (2000:31), pada tahap ini, konsumen mengevaluasi pilihan berkenaan dengan manfaat yang diharapkan dan menyempitkan pilihan hingga alternatif yang dipilih. Pencarian internal dan eksternal yang diperoleh konsumen kemudian dievaluasi, hingga ke arah yang sesuai dengan harapan konsumen dalam memuaskan kebutuhannya. Setelah itu konsumen menyempitkan pilihan hingga ke alternatif yang akan dipilih.
• Pembelian, Menurut Engel, Blackwell dan Miniard (2000:32) pada tahap pembelian, konsumen memperoleh alternatif yang dipilih atau pengganti yang dapat diterima bila perlu. Evaluasi yang telah dilakukan membawa konsumen untuk melakukan pembelian. Jika ia mengalami kegagalan untuk melakukan pembelian produk/jasa yang diinginkannya (alternatif yang dipilih), konsumen melakukan pembelian ke alternatif lain atau alternative pengganti yang masih dapat diterima.
• Hasil ; Menurut Engel, Blackwell dan Miniard (2000:32), pada tahap ini, konsumen mengevaluasi apakah alternatif yang dipilih memenuhi kebutuhan dan harapan segera sesudah digunakan.
Proses pengambilan keputusan pembelian suatu barang atau jasa akan melibatkan berbagai pihak, sesuai dengan peran masing - masing. Peran yang dilakukan tersebut adalah :
1. Initiator, adalah individu yang mempunyai inisiatif pembelian barang tertentu.
2. Influencer, adalah individu yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Informasi mengenai kriteria yang diberikan akan dipertimbangkan baik secara sengaja atau tidak.
3. Decider, adalah yang memutuskan apakah akan membeli atau tidak, apa yang akan dibeli, bagaimana membelinya.
4. Buyer, adalah individu yang melakukan transaksi pembelian sesungguhnya.
5. User, yaitu individu yang mempergunakan produk atau jasa yang dibeli.
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan wholesales pada Juli 2009 tercatat sebanyak 548.604 unit atau masih turun 6 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu 584.184 unit. Tapi peningkatan grafik penjualan positif dengan mengalami peningkatan sebesar 12,48 persen dari Juni 2009 sebanyak 487.744 unit. Salah satu yang menarik, dari rekap penjualan, persaingan ketat menduduki peringkat teratas penjualan secara nasional terjadi antara Honda dan Yamaha. Per Juli 2009, merek berlambang garputala ini berhasil menjadi juara baru setelah membukukan penjualan total 1.424.524 unit dengan market share 45,73 persen atau lebih besar 1,17 persen, menyingkirkan rival utamanya Honda yang hanya 1.407.957 unit (45,20 persen). Prestasi yang diraih PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) selaku agen tunggal pemegang merek (ATPM) motor Yamaha atas keberhasilannya menggungguli PT Astra Honda Motor (AHM) bukan hanya Juli saja, tapi sejak April, Mei, dan Juni 2009.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Ir. Ujang Sumarwan, S.Sc. 2004 Prilaku Konsumen Teori dan Penerapannya penerbit_ GI
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Edisi Revisi V, Jakarta.: PT. Rineka Cipta.
Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc. Perilaku Konsumen Ghalia Indonesia mei 2004
Assael, Henry. 1992. Consumer Behavior and Marketing 4
thedition, USA. : PWS-Kent Publishing Company.
Engel. F. James, Roger. D. Blackwell dan Paul. W. Miniard. 1994. Perilaku Konsumen. Edisi Keenam. Jilid 1, Jakarta: Bunarupa Aksara.
Hawkins, Del I. Best, Roger J. Coney, Kenneth A. 2004. Consumer Behavior. New York : The McGraw-Hill.
Kinnear, T.C. Bernhardt, K.L. and Krenler, K.A. 2003. Principles of Marketing. New York, the United States of America, HarperCollins Publishers
Kotler, Philip dan Gary Armstrong. 2001. Dasar-Dasar Pemasaran. Edisi 9. Jilid 1. Jakarta : Prenhalindo
www.kompas.com
Minggu, 17 Oktober 2010
Selasa, 28 September 2010
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK PATUNG KAYU PADA TOKO KERAJINAN (ART SHOP)
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK PATUNG KAYU PADA TOKO KERAJINAN (ART SHOP)
DI KECAMATAN SUKAWATI, GIANYAR, BALI
ABSTRAK
Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Kawasan Asia Fasifik yang banyak diminati oleh wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Hal ini terbukti dengan makin bertambahnya arus wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara yang datang ke Bali dari tahun ke tahunnya.
Perkembangan ini ternyata membuka peluang bagi industri pariwisata untuk lebih berkembang dan menjadi produk andalan yang diharapkan mampu menyediakan lapangan pekerjaan dan menyerap tenaga kerja serta mampu mendatangkan devisa bagi negara. Kunjungan wisatawan ke Pulau Bali berdampak juga pada sektor-sektor yang lain, diantaranya adalah industri patung kayu yang merupakan produk andalan Bali dan sudah memiliki pasar sampai ke luar negeri.
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata di kawasan Asia Pasifik yang banyak diminati oleh wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Sehingga sangat potensial untuk dikembangkan karena keindahan alam dan adat istiadat yang dimilikinya. Hal ini terbukti dengan makin bertambahnya arus wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara yang datang ke Bali dari tahun ke tahunnya, seperti yang terlihat pada Tabel 1.
Perkembangan ini ternyata membuka peluang bagi industri pariwisata untuk lebih berkembang dan menjadi produk andalan yang diharapkan mampu menyediakan lapangan pekerjaan dan menyerap tenaga kerja serta mampu mendatangkan devisa bagi negara. Sebagai bentuk peran aktif dari pemerintah dan masyarakat bahwa dalam perkembangan kepariwisataan terutama untuk menghadapi arus wisatawan baik mancanegara maupun wisatawan nusantara yang terus bertambah, maka pemerintah dan masyarakat telah membangun atau menyediakan prasarana dan sarana pariwisata.
Tabel 1. Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Bali
Tahun Jumlah (orang) Perubahan
1995 1.015.314 -
1996 1.140.988 12,3
1997 1.230.316 7,8
1998 1.187.069 (3,5)
1999 1.347.794 11,9
Sumber : Dinas Pariwisata Propinsi Bali
Kunjungan wisatawan ke Pulau Bali berdampak juga kepada sektor-sektor yang lain, di mana semakin berkembangnya sektor pariwisata ini maka sektor-sektor yang berkaitan dengan pariwisata juga berkembang, diantaranya adalah sektor industri kecil dan menengah yang memiliki keterkaitan dengan budaya setempat. Sehingga pemerintah mencantumkannya dalam GBHN (Tap MPR No. II/1993) dijelaskan bahwa industri kecil dan menengah termasuk industri kerajinan dan industri rumah tangga perlu lebih dibina menjadi usaha yang makin efisien dan mampu berkembang mandiri, meningkatkan pendapatan masyarakat, membuka lapangan kerja dan makin mampu meningkatkan perannya dalam penyediaan barang dan jasa serta berbagai komponen baik untuk keperluan pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri.
Untuk menghadapi tuntutan pariwisata ini, pemerintah dan masyarakat Bali telah mengembangkan industri kecil dan menengah yang berasal dari kebudayaan dan adat istiadat daerah Bali. Salah satunya adalah industri patung kayu yang merupakan produk andalah Bali dan sudah memiliki pasar sampai ke luar negeri. Toko kerajinan (art shop) patung kayu sebagai salah satu bisnis penunjang pariwisata tumbuh dan berkembang pesat di Kecamatan Sukawati Gianyar Bali. Hal ini disebabkan karena Kecamatan Sukawati di samping dikenal sebagai pusat kerajinan patung kayu, juga terletak di jalur wisata Bali bagian timur. Art shop ini menjual hasil kerajinan patung kayu dengan bentuk yang bermacam-macam dan semakin menarik sehingga para wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Bali banyak yang tertarik untuk membeli patung kayu sebagai cendera mata. Bangunan art shop dengan style Balinya yang khas dan areal parkir yang luas siap menyambut wisatawan yang datang untuk melihat atau membeli hasil kerajinan patung kayu tersebut. Bagi wisatawan mancanegara yang jumlah pembeliannya besar dilakukan dengan menggunakan ekspedisi ekspor.
Rumusan Masalah
a. Faktor-faktor apa saja yang dipertimbangkan oleh konsumen dalam keputusan pembelian produk patung kayu pada toko kerajinan (art shop) di Kecamatan Sukawati Gianyar Bali.
b. Faktor manakah yang mempunyai pengaruh paling dominan dalam keputusan pembelian produk patung kayu pada toko kerajinan (art shop) patung kayu di Kecamatan Sukawati Gianyar Bali.
Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui faktor-faktor yang dipertimbangkan oleh konsumen dalam keputusan pembelian produk patung kayu pada toko kerajinan (art shop) di Kecamatan Sukawati Gianyar.
b. Untuk mengetahui faktor yang mempunyai pengaruh paling dominan dalam keputusan pembelian produk patung kayu pada toko kerajinan (art shop) di Kecamatan Sukawati Gianyar.
Hipotesis
a. Diduga faktor pribadi pembeli, faktor budaya, kelompok reference, faktor kelas sosial, faktor produk, faktor harga, faktor promosi, faktor distribusi, faktor kondisi fisik merupakan faktor yang dipertimbangkan konsumen dalam keputusan pembelian produk patung kayu pada toko kerajinan (art shop) di Kecamatan Sukawati Gianyar Bali.
b. Diduga faktor produk mempunyai pengaruh paling dominan dalam keputusan pembelian produk patung kayu pada toko kerajinan (art shop) di Kecamatan Sukawati Gianyar.
METODE PENELITIAN
Populasi dan Penentuan Sampel
Populasi dalam penelitian ini meliputi seluruh wisatawan mancanegara yang berkunjung pada toko kerajinan (art shop) patung kayu di Kecamatan Sukawati Gianyar Bali. Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode accidental sampling. Karena jumlah variabel yang diteliti sebanyak 20 maka sampel yang ditetapkan sebanyak 100 responden dianggap sudah mewakili.
Jenis dan Sumber Data
a. Data primer meliputi tanggapan responden (wisatawan mancanegara) sehubungan dengan keputusan pembelian patung kayu pada toko kerajinan (art shop) di Kecamatan Sukawati Gianyar Bali.
b. Data sekunder misalnya laporan-laporan atau dokumen yang berasal dari instansi pemerintah, Biro Pusat Statistik, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pariwisata Bali dan instansi terkait lainnya.
Teknik Pengumpulan Data
Data primer dalam penelitian ini dikumpulkan dengan : (a). Kuesioner (angket) dan (b). Interview
Teknik Analisis
1. Analisis Faktor
Metode analisis data yang digunakan untuk menjawab hipotesis pertama yang dikemukakan di muka adalah analisis faktor. Analisis faktor adalah serangkaian prosedur yang digunakan untuk mengurangi dan meringkas data.
2. Model Regresi Berganda
Untuk mengetahui variabel yang mempengaruhi keputusan pembelian produk patung kayu (hipotesis ke 2) dapat dianalisis dengan menggunakan regresi linier berganda. Hubungan sebab akibat dari variabel tersebut dapat ditulis dengan persamaan matematis sebagai berikut :
Y = f (X1, X2, X3, X4, X5, X6, X7, X8, X9)
Yang dapat pada persamaan regresi berganda sebagai berikut (Damodar Gujarati 1997):
Y = 0 + 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + 4 X4 + 5 X5 + ....... + n Xn + m
dimana :
Y = Variabel terikat (variabel keputusan pembelian)
0 = Konstanta
= Koefisien regresi
X = Variabel bebas (variabel yang mempengaruh keputusan pembelian)
m = Kesalahan pengganggu.
Untuk variabel keputusan pembelian dapat diukur dengan besarnya jumlah uang yang dikeluarkan dalam keputusan pembelian yang dilakukan oleh wisatawan mancanegara.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Faktor
Analisis faktor dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
a. Merumuskan masalah
Berdasarkan teori, penelitian sejenis terdahulu dan pemikiran peneliti ditentukan 20 (dua puluh) variabel yang diamati.
b. Membuat matrik korelasi
Variabel-variabel yang tidak saling berhubungan dengan variabel lain dikeluarkan dari analisis. Untuk menguji bahwa 20 variabel saling berhubungan diperlihatkan oleh nilai determinasi R yang mendekati 0, nilai KMO (Keiser-Meyer-Olkin) harus lebih besar dari 0,5, uji Bartlett dan uji MSA. Dari hasil pengujian terdapat satu variabel yang harus dikeluarkan dari model karena tidak memenuhi kriteria MSA > 0,5 yaitu variabel potongan harga (X12) dan dua variabel tidak memenuhi kriteria communality < adequency =" 0,76635" sphericity =" 895,96725," significance =" 0,00000."> 0,5 yang menunjukkan bahwa hubungan antar variabel sangat erat.
c. Penentuan jumlah faktor
Hasil perhitungan dengan metode komponen prinsip pada inisial statistik menunjukkan terdapat 6 faktor yang menjadi pertimbangan konsumen dalam pembelian patung kayu. Keenam faktor tersebut mampu menjelaskan semua varian yang ada dalam data sebesar 80,7% seperti yang ditunjukkan secara rinci dalam Tabel 2.
Tabel 2. Faktor-faktor yang Dipertimbangkan Konsumen
Faktor Eigen value % variance Cum Pct
1 4,63653 27,3 27,3
2 3,15352 18,6 45,8
3 1,87740 11,0 56,9
4 1,58539 9,3 66,2
5 1,34874 7,9 74,1
6 1,10984 6,5 80,7
d. Rotasi Faktor
Hasil rotasi faktor tersebut adalah sebagai Tabel 3.
Keputusan pembelian produk patung kayu pada toko kerajinan (art shop) di Kecamatan Sukawati Gianyar Bali dipengaruhi oleh keenam variabel bebas yaitu harga, promosi, referensi, produk, budaya dan kondisi fisik. Keenam variabel ini akan diuraikan menurut urutan besar pengaruh terhadap keputusan pembelian sebagai berikut:
a. Faktor Produk
Faktor produk ini terdiri dari variabel kualitas, bahan baku dan desain. Faktor ini merupakan faktor yang paling mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian patung kayu.
b. Faktor Harga
Faktor harga ini terdiri dari variabel tingkat harga, kemudahan menuju lokasi, tingkat pendapatan dan sarana parkir. Harga produk merupakan salah satu variabel yang turut dipertimbangkan konsumen wisatawan mancanegara dalam keputusan pembelian produk patung kayu. Harga yang dimaksud adalah harga produk patung kayu yang ditawarkan ke konsumen ini berhubungan erat dengan perkembangan nilai tukar rupiah terhadap US Dolar
c. Faktor referensi
Faktor referensi ini terdiri dari variabel pengaruh teman, ukuran dan keunikan. Pengaruh yang diberikan oleh teman merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian patung kayu. Karena tidak sedikit wisatawan yang melakukan pembelian patung kayu dipengaruhi oleh teman-teman mereka yang sudah terlebih dahulu berkunjung dan sekaligus membeli produk patung kayu.
Keunikan-keunikan pada produk patung kayu di samping dipengaruhi oleh budaya dan adat istiadat masyarakat Bali juga dipengaruhi oleh bahan baku alami yang digunakan serta proses pembuatannya.
d. Faktor budaya
Faktor budaya ini terdiri dari variabel nilai budaya dan pengaruh keluarga. Yang dimaksud nilai budaya adalah latar belakang budaya konsumen yang membentuk pemikiran, perilaku dan karakteristik lainnya dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi di sini para pemilik art shop hendaknya mengadaptasikan produknya sesuai dengan latar belakang budaya negara wisatawan mancanegara.
e. Faktor promosi
Faktor promosi ini terdiri dari variabel personal selling, pengetahuan dan pameran. Informasi tambahan tentang patung kayu diperoleh wisatawan mancanegara dari pemandu wisata, yang mengantar ke lokasi toko kerajinan patung kayu (art shop). Dengan berbekal bahasa asing yang sesuai dengan negara asal wisatawan mancanegara, pemandu wisata ini akan memberikan informasi yang lengkap tentang patung kayu di art shop-art shop yang mereka kunjungi.
f. Faktor Kondisi Fisik
Faktor kondisi fisik ini terdiri dari variabel tata letak dan desain bangunan. Tata cara penataan letak patung di dalam art shop yang dikelompokkan menurut jenis dan ukurannya juga mempengaruhi wisatawan untuk melakukan keputusan pembelian patung kayu karena mereka dapat melihat dan memilih patung kayu yang mereka inginkan dengan cepat tanpa memerlukan waktu lama.
Desain bangunan art shop yang mencerminkan khas budaya Bali sangat menarik wisatawan mancanegara untuk datang dan melakukan keputusan pembelian patung kayu.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Fokus penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam keputusan pembelian produk patung kayu. Analisis ini semula didasarkan pada 20 variabel yang dikelompokkan ke dalam 9 faktor yaitu: faktor pribadi, faktor budaya, faktor kelompok acuan, faktor sosial budaya, faktor harga, faktor promosi, faktor distribusi, faktor kondisi fisik.
1. Penelitian ini menggunakan dua model analisis, yaitu analisis faktor dan analisis regresi berganda. Analisis faktor digunakan untuk menyederhanakan dan mereduksi beberapa variabel dari 20 variabel yang diamati ke dalam sejumlah faktor sehingga bisa diyakini sebagai faktor atau sumber yang melandasi perilaku konsumen dalam keputusan pembelian produk patung kayu. Teknik analisis faktor yang digunakan adalah Principal Component Analysis (PCA) dan menggunakan rotasi varimax. Dari model tersebut kemudian diketahui bahwa dari 20 variabel direduksi menjadi 17 variabel yang tersebar dalam 6 faktor. Sisanya 3 variabel dikeluarkan dari model karena tidak memenuhi kriteria MSA > 0,5 yaitu variabel potongan harga (X12) dan dua variabel tidak memenuhi kriteria, dimana communality <0,5 fhitung="45,29365"> Ftabel =2,29 signifikan pada =5%. Kemudian dari enam faktor tersebut dapat pula diketahui bahwa faktor produk merupakan faktor yang berpengaruh paling dominan dalam keputusan pembelian. Hal ini ditunjukkan dalam nilai thitung sebesar 8,594 (tertinggi di antara enam faktor yang mempengaruhi konsumen)
DAFTAR PUSTAKA
A.A. Mangkunegara. (1988) Perilaku Konsumen. PT. Eres Co., Bandung.
Arikunto, Suharmi. (1991) Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Bina Aksara, Jakarta.
Assael, Hendri. (1994) Consumen Behavior and Marketing Action. Fourth Edition. Kent Publishing Company, Boston.
Claes Fornel dan Birger Wernerfelt. (1987) Defensif Marketing Strategy by Consumer’s Complaint Management, A. Theorical Analysis. Journal of Marketing Research.
Collier David A. (1991) New Marketing Mix – Stresses Service. The Journal of Business Strategy. March/April. 1-4.
Cristine Moorman. (1990) The Effect of Stimulus and Consumer Characteristics on The Nutrition Information. Journal Consumer Research.
Delaert, Benedict GC, Theo A Arentze, Michael Bierlare, Aloys W.J. Borrgers dan Hurry JP Timmermans. (1998) Investigating Consumer Tedency to Combine Multiple Shoping Purpose and Destinations. Journal of Marketing Research. Vol XXXV (May 1998). 177-188.
Engel, J.F. Backwell, Roger & Paul W. Minard. (1995) Perilaku Konsumen. Alih Bahasa Budiono FX. Jilid II. Binarupa Aksara, Jakarta.
Fernandes, H.J.X. (1984) Testing and Measurement in National Education Planning, Evaluation and Curriculum Development. Jakarta.
Kotler, Philip. (1997) Manajemen Pemasaran, Analisis, Perencanaan Implikasi dan Kontrol. Alih Bahasa Hendra Teguh dan Romly A. Rusli. Jilid 1. Prehalindo, Jakarta.
www.google.com
DI KECAMATAN SUKAWATI, GIANYAR, BALI
ABSTRAK
Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Kawasan Asia Fasifik yang banyak diminati oleh wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Hal ini terbukti dengan makin bertambahnya arus wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara yang datang ke Bali dari tahun ke tahunnya.
Perkembangan ini ternyata membuka peluang bagi industri pariwisata untuk lebih berkembang dan menjadi produk andalan yang diharapkan mampu menyediakan lapangan pekerjaan dan menyerap tenaga kerja serta mampu mendatangkan devisa bagi negara. Kunjungan wisatawan ke Pulau Bali berdampak juga pada sektor-sektor yang lain, diantaranya adalah industri patung kayu yang merupakan produk andalan Bali dan sudah memiliki pasar sampai ke luar negeri.
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata di kawasan Asia Pasifik yang banyak diminati oleh wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Sehingga sangat potensial untuk dikembangkan karena keindahan alam dan adat istiadat yang dimilikinya. Hal ini terbukti dengan makin bertambahnya arus wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara yang datang ke Bali dari tahun ke tahunnya, seperti yang terlihat pada Tabel 1.
Perkembangan ini ternyata membuka peluang bagi industri pariwisata untuk lebih berkembang dan menjadi produk andalan yang diharapkan mampu menyediakan lapangan pekerjaan dan menyerap tenaga kerja serta mampu mendatangkan devisa bagi negara. Sebagai bentuk peran aktif dari pemerintah dan masyarakat bahwa dalam perkembangan kepariwisataan terutama untuk menghadapi arus wisatawan baik mancanegara maupun wisatawan nusantara yang terus bertambah, maka pemerintah dan masyarakat telah membangun atau menyediakan prasarana dan sarana pariwisata.
Tabel 1. Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Bali
Tahun Jumlah (orang) Perubahan
1995 1.015.314 -
1996 1.140.988 12,3
1997 1.230.316 7,8
1998 1.187.069 (3,5)
1999 1.347.794 11,9
Sumber : Dinas Pariwisata Propinsi Bali
Kunjungan wisatawan ke Pulau Bali berdampak juga kepada sektor-sektor yang lain, di mana semakin berkembangnya sektor pariwisata ini maka sektor-sektor yang berkaitan dengan pariwisata juga berkembang, diantaranya adalah sektor industri kecil dan menengah yang memiliki keterkaitan dengan budaya setempat. Sehingga pemerintah mencantumkannya dalam GBHN (Tap MPR No. II/1993) dijelaskan bahwa industri kecil dan menengah termasuk industri kerajinan dan industri rumah tangga perlu lebih dibina menjadi usaha yang makin efisien dan mampu berkembang mandiri, meningkatkan pendapatan masyarakat, membuka lapangan kerja dan makin mampu meningkatkan perannya dalam penyediaan barang dan jasa serta berbagai komponen baik untuk keperluan pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri.
Untuk menghadapi tuntutan pariwisata ini, pemerintah dan masyarakat Bali telah mengembangkan industri kecil dan menengah yang berasal dari kebudayaan dan adat istiadat daerah Bali. Salah satunya adalah industri patung kayu yang merupakan produk andalah Bali dan sudah memiliki pasar sampai ke luar negeri. Toko kerajinan (art shop) patung kayu sebagai salah satu bisnis penunjang pariwisata tumbuh dan berkembang pesat di Kecamatan Sukawati Gianyar Bali. Hal ini disebabkan karena Kecamatan Sukawati di samping dikenal sebagai pusat kerajinan patung kayu, juga terletak di jalur wisata Bali bagian timur. Art shop ini menjual hasil kerajinan patung kayu dengan bentuk yang bermacam-macam dan semakin menarik sehingga para wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Bali banyak yang tertarik untuk membeli patung kayu sebagai cendera mata. Bangunan art shop dengan style Balinya yang khas dan areal parkir yang luas siap menyambut wisatawan yang datang untuk melihat atau membeli hasil kerajinan patung kayu tersebut. Bagi wisatawan mancanegara yang jumlah pembeliannya besar dilakukan dengan menggunakan ekspedisi ekspor.
Rumusan Masalah
a. Faktor-faktor apa saja yang dipertimbangkan oleh konsumen dalam keputusan pembelian produk patung kayu pada toko kerajinan (art shop) di Kecamatan Sukawati Gianyar Bali.
b. Faktor manakah yang mempunyai pengaruh paling dominan dalam keputusan pembelian produk patung kayu pada toko kerajinan (art shop) patung kayu di Kecamatan Sukawati Gianyar Bali.
Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui faktor-faktor yang dipertimbangkan oleh konsumen dalam keputusan pembelian produk patung kayu pada toko kerajinan (art shop) di Kecamatan Sukawati Gianyar.
b. Untuk mengetahui faktor yang mempunyai pengaruh paling dominan dalam keputusan pembelian produk patung kayu pada toko kerajinan (art shop) di Kecamatan Sukawati Gianyar.
Hipotesis
a. Diduga faktor pribadi pembeli, faktor budaya, kelompok reference, faktor kelas sosial, faktor produk, faktor harga, faktor promosi, faktor distribusi, faktor kondisi fisik merupakan faktor yang dipertimbangkan konsumen dalam keputusan pembelian produk patung kayu pada toko kerajinan (art shop) di Kecamatan Sukawati Gianyar Bali.
b. Diduga faktor produk mempunyai pengaruh paling dominan dalam keputusan pembelian produk patung kayu pada toko kerajinan (art shop) di Kecamatan Sukawati Gianyar.
METODE PENELITIAN
Populasi dan Penentuan Sampel
Populasi dalam penelitian ini meliputi seluruh wisatawan mancanegara yang berkunjung pada toko kerajinan (art shop) patung kayu di Kecamatan Sukawati Gianyar Bali. Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode accidental sampling. Karena jumlah variabel yang diteliti sebanyak 20 maka sampel yang ditetapkan sebanyak 100 responden dianggap sudah mewakili.
Jenis dan Sumber Data
a. Data primer meliputi tanggapan responden (wisatawan mancanegara) sehubungan dengan keputusan pembelian patung kayu pada toko kerajinan (art shop) di Kecamatan Sukawati Gianyar Bali.
b. Data sekunder misalnya laporan-laporan atau dokumen yang berasal dari instansi pemerintah, Biro Pusat Statistik, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pariwisata Bali dan instansi terkait lainnya.
Teknik Pengumpulan Data
Data primer dalam penelitian ini dikumpulkan dengan : (a). Kuesioner (angket) dan (b). Interview
Teknik Analisis
1. Analisis Faktor
Metode analisis data yang digunakan untuk menjawab hipotesis pertama yang dikemukakan di muka adalah analisis faktor. Analisis faktor adalah serangkaian prosedur yang digunakan untuk mengurangi dan meringkas data.
2. Model Regresi Berganda
Untuk mengetahui variabel yang mempengaruhi keputusan pembelian produk patung kayu (hipotesis ke 2) dapat dianalisis dengan menggunakan regresi linier berganda. Hubungan sebab akibat dari variabel tersebut dapat ditulis dengan persamaan matematis sebagai berikut :
Y = f (X1, X2, X3, X4, X5, X6, X7, X8, X9)
Yang dapat pada persamaan regresi berganda sebagai berikut (Damodar Gujarati 1997):
Y = 0 + 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + 4 X4 + 5 X5 + ....... + n Xn + m
dimana :
Y = Variabel terikat (variabel keputusan pembelian)
0 = Konstanta
= Koefisien regresi
X = Variabel bebas (variabel yang mempengaruh keputusan pembelian)
m = Kesalahan pengganggu.
Untuk variabel keputusan pembelian dapat diukur dengan besarnya jumlah uang yang dikeluarkan dalam keputusan pembelian yang dilakukan oleh wisatawan mancanegara.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Faktor
Analisis faktor dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
a. Merumuskan masalah
Berdasarkan teori, penelitian sejenis terdahulu dan pemikiran peneliti ditentukan 20 (dua puluh) variabel yang diamati.
b. Membuat matrik korelasi
Variabel-variabel yang tidak saling berhubungan dengan variabel lain dikeluarkan dari analisis. Untuk menguji bahwa 20 variabel saling berhubungan diperlihatkan oleh nilai determinasi R yang mendekati 0, nilai KMO (Keiser-Meyer-Olkin) harus lebih besar dari 0,5, uji Bartlett dan uji MSA. Dari hasil pengujian terdapat satu variabel yang harus dikeluarkan dari model karena tidak memenuhi kriteria MSA > 0,5 yaitu variabel potongan harga (X12) dan dua variabel tidak memenuhi kriteria communality < adequency =" 0,76635" sphericity =" 895,96725," significance =" 0,00000."> 0,5 yang menunjukkan bahwa hubungan antar variabel sangat erat.
c. Penentuan jumlah faktor
Hasil perhitungan dengan metode komponen prinsip pada inisial statistik menunjukkan terdapat 6 faktor yang menjadi pertimbangan konsumen dalam pembelian patung kayu. Keenam faktor tersebut mampu menjelaskan semua varian yang ada dalam data sebesar 80,7% seperti yang ditunjukkan secara rinci dalam Tabel 2.
Tabel 2. Faktor-faktor yang Dipertimbangkan Konsumen
Faktor Eigen value % variance Cum Pct
1 4,63653 27,3 27,3
2 3,15352 18,6 45,8
3 1,87740 11,0 56,9
4 1,58539 9,3 66,2
5 1,34874 7,9 74,1
6 1,10984 6,5 80,7
d. Rotasi Faktor
Hasil rotasi faktor tersebut adalah sebagai Tabel 3.
Keputusan pembelian produk patung kayu pada toko kerajinan (art shop) di Kecamatan Sukawati Gianyar Bali dipengaruhi oleh keenam variabel bebas yaitu harga, promosi, referensi, produk, budaya dan kondisi fisik. Keenam variabel ini akan diuraikan menurut urutan besar pengaruh terhadap keputusan pembelian sebagai berikut:
a. Faktor Produk
Faktor produk ini terdiri dari variabel kualitas, bahan baku dan desain. Faktor ini merupakan faktor yang paling mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian patung kayu.
b. Faktor Harga
Faktor harga ini terdiri dari variabel tingkat harga, kemudahan menuju lokasi, tingkat pendapatan dan sarana parkir. Harga produk merupakan salah satu variabel yang turut dipertimbangkan konsumen wisatawan mancanegara dalam keputusan pembelian produk patung kayu. Harga yang dimaksud adalah harga produk patung kayu yang ditawarkan ke konsumen ini berhubungan erat dengan perkembangan nilai tukar rupiah terhadap US Dolar
c. Faktor referensi
Faktor referensi ini terdiri dari variabel pengaruh teman, ukuran dan keunikan. Pengaruh yang diberikan oleh teman merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian patung kayu. Karena tidak sedikit wisatawan yang melakukan pembelian patung kayu dipengaruhi oleh teman-teman mereka yang sudah terlebih dahulu berkunjung dan sekaligus membeli produk patung kayu.
Keunikan-keunikan pada produk patung kayu di samping dipengaruhi oleh budaya dan adat istiadat masyarakat Bali juga dipengaruhi oleh bahan baku alami yang digunakan serta proses pembuatannya.
d. Faktor budaya
Faktor budaya ini terdiri dari variabel nilai budaya dan pengaruh keluarga. Yang dimaksud nilai budaya adalah latar belakang budaya konsumen yang membentuk pemikiran, perilaku dan karakteristik lainnya dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi di sini para pemilik art shop hendaknya mengadaptasikan produknya sesuai dengan latar belakang budaya negara wisatawan mancanegara.
e. Faktor promosi
Faktor promosi ini terdiri dari variabel personal selling, pengetahuan dan pameran. Informasi tambahan tentang patung kayu diperoleh wisatawan mancanegara dari pemandu wisata, yang mengantar ke lokasi toko kerajinan patung kayu (art shop). Dengan berbekal bahasa asing yang sesuai dengan negara asal wisatawan mancanegara, pemandu wisata ini akan memberikan informasi yang lengkap tentang patung kayu di art shop-art shop yang mereka kunjungi.
f. Faktor Kondisi Fisik
Faktor kondisi fisik ini terdiri dari variabel tata letak dan desain bangunan. Tata cara penataan letak patung di dalam art shop yang dikelompokkan menurut jenis dan ukurannya juga mempengaruhi wisatawan untuk melakukan keputusan pembelian patung kayu karena mereka dapat melihat dan memilih patung kayu yang mereka inginkan dengan cepat tanpa memerlukan waktu lama.
Desain bangunan art shop yang mencerminkan khas budaya Bali sangat menarik wisatawan mancanegara untuk datang dan melakukan keputusan pembelian patung kayu.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Fokus penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam keputusan pembelian produk patung kayu. Analisis ini semula didasarkan pada 20 variabel yang dikelompokkan ke dalam 9 faktor yaitu: faktor pribadi, faktor budaya, faktor kelompok acuan, faktor sosial budaya, faktor harga, faktor promosi, faktor distribusi, faktor kondisi fisik.
1. Penelitian ini menggunakan dua model analisis, yaitu analisis faktor dan analisis regresi berganda. Analisis faktor digunakan untuk menyederhanakan dan mereduksi beberapa variabel dari 20 variabel yang diamati ke dalam sejumlah faktor sehingga bisa diyakini sebagai faktor atau sumber yang melandasi perilaku konsumen dalam keputusan pembelian produk patung kayu. Teknik analisis faktor yang digunakan adalah Principal Component Analysis (PCA) dan menggunakan rotasi varimax. Dari model tersebut kemudian diketahui bahwa dari 20 variabel direduksi menjadi 17 variabel yang tersebar dalam 6 faktor. Sisanya 3 variabel dikeluarkan dari model karena tidak memenuhi kriteria MSA > 0,5 yaitu variabel potongan harga (X12) dan dua variabel tidak memenuhi kriteria, dimana communality <0,5 fhitung="45,29365"> Ftabel =2,29 signifikan pada =5%. Kemudian dari enam faktor tersebut dapat pula diketahui bahwa faktor produk merupakan faktor yang berpengaruh paling dominan dalam keputusan pembelian. Hal ini ditunjukkan dalam nilai thitung sebesar 8,594 (tertinggi di antara enam faktor yang mempengaruhi konsumen)
DAFTAR PUSTAKA
A.A. Mangkunegara. (1988) Perilaku Konsumen. PT. Eres Co., Bandung.
Arikunto, Suharmi. (1991) Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Bina Aksara, Jakarta.
Assael, Hendri. (1994) Consumen Behavior and Marketing Action. Fourth Edition. Kent Publishing Company, Boston.
Claes Fornel dan Birger Wernerfelt. (1987) Defensif Marketing Strategy by Consumer’s Complaint Management, A. Theorical Analysis. Journal of Marketing Research.
Collier David A. (1991) New Marketing Mix – Stresses Service. The Journal of Business Strategy. March/April. 1-4.
Cristine Moorman. (1990) The Effect of Stimulus and Consumer Characteristics on The Nutrition Information. Journal Consumer Research.
Delaert, Benedict GC, Theo A Arentze, Michael Bierlare, Aloys W.J. Borrgers dan Hurry JP Timmermans. (1998) Investigating Consumer Tedency to Combine Multiple Shoping Purpose and Destinations. Journal of Marketing Research. Vol XXXV (May 1998). 177-188.
Engel, J.F. Backwell, Roger & Paul W. Minard. (1995) Perilaku Konsumen. Alih Bahasa Budiono FX. Jilid II. Binarupa Aksara, Jakarta.
Fernandes, H.J.X. (1984) Testing and Measurement in National Education Planning, Evaluation and Curriculum Development. Jakarta.
Kotler, Philip. (1997) Manajemen Pemasaran, Analisis, Perencanaan Implikasi dan Kontrol. Alih Bahasa Hendra Teguh dan Romly A. Rusli. Jilid 1. Prehalindo, Jakarta.
www.google.com
Rabu, 30 Desember 2009

Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi bertujuan untuk menyejahterakan anggotanya.
Berdasarkan pengertian tersebut, yang dapat menjadi anggota koperasi yaitu:
- Perorangan, yaitu orang yang secara sukarela menjadi anggota koperasi;
- Badan hukum koperasi, yaitu suatu koperasi yang menjadi anggota koperasi yang
memiliki lingkup lebih luas.
Pada Pernyataan Standard Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 27 (Revisi 1998), disebutkan bahwa karateristik utama koperasi yang membedakan dengan badan usaha lain, yaitu anggota koperasi memiliki identitas ganda. Identitas ganda maksudnya anggota koperasi merupakan pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi.
Umumnya koperasi dikendalikan secara bersama oleh seluruh anggotanya, di mana setiap anggota memiliki hak suara yang sama dalam setiap keputusan yang diambil koperasi. Pembagian keuntungan koperasi (biasa disebut Sisa Hasil Usaha atau SHU) biasanya dihitung berdasarkan andil anggota tersebut dalam koperasi, misalnya dengan melakukan pembagian dividen berdasarkan besar pembelian atau penjualan yang dilakukan oleh si anggota.
FUNGSI & PERAN KOPERASI
Menurut Undang-undang No. 25 tahun 1992 Pasal 4 dijelaskan bahwa fungsi dan peran koperasi sebagai berikut:
Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya;
Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat
Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko-gurunya
Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional, yang merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi
Mengembangkan kreativitas dan membangun jiwa berorganisasi bagi para pelajar
PRINSIP KOPERASI
Menurut UU No. 25 tahun 1992 Pasal 5 disebutkan prinsip koperasi, yaitu:
Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka
Pengelolaan dilakukan secara demokratis
Pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota (andil anggota tersebut dalam koperasi)
Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal
Kemandirian
Pendidikan perkoprasian
kerjasama antar koperasI
Jenis-jenis Koperasi menurut UU Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian
Koperasi secara umum dapat dikelompokkan menjadi koperasi konsumen, koperasi produsen dan koperasi kredit (jasa keuangan). Koperasi dapat pula dikelompokkan berdasarkan sektor usahanya.
- Koperasi Simpan Pinjam
- Koperasi Konsumen
- Koperasi Produsen
- Koperasi Pemasaran
- Koperasi Jasa
- Koperasi Simpan Pinjam Adalah koperasi yang bergerak di bidang simpanan dan
pinjaman.
- Koperasi Konsumen Adalah koperasi beranggotakan para konsumen dengan menjalankan
kegiatannya jual beli menjual barang konsumsi.
- Koperasi Produsen Adalah koperasi beranggotakan para pengusaha kecil (UKM) dengan
menjalankan kegiatan pengadaan bahan baku dan penolong untuk anggotanya.
- Koperasi Pemasaran Koperasi yang menjalankan kegiatan penjualan produk/jasa
koperasinya atau anggotanya
- Koperasi Jasa Koperasi yang bergerak di bidang usaha jasa lainnya.
SUMBER MODAL KOPERASI
Seperti halnya bentuk badan usaha yang lain, untuk menjalankan kegiatan usahanya koperasi memerlukan modal. Adapun modal koperasi terdiri atas modal sendiri dan modal pinjaman.
modal sendiri meliputi sumber modal sebagai berikut:
Simpanan Pokok
Simpanan pokok adalah sejumlah uang yang wajib dibayarkan oleh anggota kepada koperasi pada saat masuk menjadi anggota. Simpanan pokok tidak dapat diambil kembali selama yang bersangkutan masih menjadi anggota koperasi. Simpanan pokok jumlahnya sama untuk setiap anggota.
Simpanan Wajib
Simpanan wajib adalah jumlah simpanan tertentu yang harus dibayarkan oleh anggota kepada koperasi dalam waktu dan kesempatan tertentu, misalnya tiap bulan dengan jumlah simpanan yang sama untuk setiap bulannya. Simpanan wajib tidak dapat diambil kembali selama yang bersangkutan masih menjadi anggota koperasi.
Simpanan khusus/lain-lain misalnya:Simpanan sukarela (simpanan yang dapat diambil kapan saja), Simpanan Qurba, dan Deposito Berjangka.
Dana Cadangan
Dana cadangan adalah sejumlah uang yang diperoleh dari penyisihan Sisa Hasil usaha, yang dimaksudkan untuk pemupukan modal sendiri, pembagian kepada anggota yang keluar dari keanggotaan koperasi, dan untuk menutup kerugian koperasi bila diperlukan.
Hibah
Hibah adalah sejumlah uang atau barang modal yang dapat dinilai dengan uang yang diterima dari pihak lain yang bersifat hibah/pemberian dan tidak mengikat.
adapun modal pinjaman koperasi berasal dari pihak-pihak sebagai berikut:
- Anggota dan calon anggota.
- Koperasi lainnya dan/atau anggotanya yang didasari dengan perjanjian
kerjasama antarkoperasi.
- Bank dan Lembaga keuangan bukan banklembaga keuangan lainnya yang dilakukan
berdasarkan ketentuan peraturan perudang-undangan yang berlaku.
- Penerbitan obligasi dan surat utang lainnya yang dilakukan berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
- Sumber lain yang sah.
MEKANISME PENDIRIAN KOPERASI
Mekanisme pendirian koperasi terdiri dari beberapa tahap. Pertama-tama adalah pengumpulan anggota, karena untuk menjalankan koperasi membutuhkan minimal 20 anggota. Kedua, Para anggota tersebut akan mengadakan rapat anggota, untuk melakukan pemilihan pengurus koperasi ( ketua, sekertaris, dan bendahara ). Setelah itu, koperasi tersebut harus merencanakan anggaran dasar dan rumah tangga koperasi itu. Lalu meminta perizinan dari negara. Barulah bisa menjalankan koperasi dengan baik dan benar.
SEJARAH BERDIRINYA KOPERASI DUNIA
Gerakan koperasi digagas oleh Robert Owen (1771-1858), yang menerapkannya pertama kali pada usaha pemintalan kapas di New Lanark, Skotlandia.
Gerakan koperasi ini dikembangkan lebih lanjut oleh William King (1786–1865) – dengan mendirikan toko koperasi di Brighton, Inggris. Pada 1 Mei 1828, King menerbitkan publikasi bulanan yang bernama The Cooperator, yang berisi berbagai gagasan dan saran-saran praktis tentang mengelola toko dengan menggunakan prinsip koperasi.
Koperasi akhirnya berkembang di negara-negara lainnya. Di Jerman, juga berdiri koperasi yang menggunakan prinsip-prinsip yang sama dengan koperasi buatan Inggris. Koperasi-koperasi di Inggris didirikan oleh Charles Foirer, Raffeinsen, dan Schulze Delitch. Di Perancis, Louis Blanc mendirikan koperasi produksi yang mengutamakan kualitas barang. Di Denmark Pastor Christiansone mendirikan koperasi pertanian.
Gerakan Koperasi di Indonesia
Koperasi diperkenalkan di Indonesia oleh R. Aria Wiriatmadja di Purwokerto, Jawa Tengah pada tahun 1896. Dia mendirikan koperasi kredit dengan tujuan membantu rakyatnya yang terjerat hutang dengan rentenir. Koperasi tersebut lalu berkembang pesat dan akhirnya ditiru oleh Boedi Oetomo dan SDI. Belanda yang khawatir koperasi akan dijadikan tempat pusat perlawanan, mengeluarkan UU no. 431 tahun 19 yang isinya yaitu :
- Harus membayar minimal 50 gulden untuk mendirikan koperasi
- Sistem usaha harus menyerupai sistem di Eropa
- Harus mendapat persetujuan dari Gubernur Jendral
- Proposal pengajuan harus berbahasa Belanda
Hal ini menyebabkan koperasi yang ada saat itu berjatuhan karena tidak mendapatkan izin Koperasi dari Belanda. Namun setelah para tokoh Indonesia mengajukan protes, Belanda akhirnya mengeluarkan UU Nomor 91 pada Tahun 1927, yang isinya lebih ringan dari UU no. 431 seperti :
- Hanya membayar 3 gulden untuk materai
- Bisa menggunakan bahasa daerah
- Hukum dagang sesuai daerah masing-masing
- Perizinan bisa didaerah setempat
Koperasi menjamur kembali hingga pada tahun 1933 keluar UU yang mirip UU no. 431 sehingga mematikan usaha koperasi untuk yang kedua kalinya. Pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia. Jepang lalu mendirikan koperasi kumiyai. Awalnya koperasi ini berjalan mulus. Namun fungsinya berubah drastis dan menjadi alat jepang untuk mengeruk keuntungan, dan menyengsarakan rakyat.
Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 12 Juli 1947, pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di Tasikmalaya. Hari ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia.
Perangkat Organisasi Koperasi
Rapat Anggota
Rapat anggota adalah wadah aspirasi anggota dan pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi. Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, maka segala kebijakan yang berlaku dalam koperasi harus melewati persetujuan rapat anggota terlebih dahulu., termasuk pemilihan, pengangkatan dan pemberhentian personalia pengurus dan pengawas.
Pengurus
Pengurus adalah badan yang dibentuk oleh rapat anggota dan disertai dan diserahi mandat untuk melaksanakan kepemimpinan koperasi, baik dibidang organisasi maupun usaha. Anggota pengurus dipilih dari dan oleh anggota koperasi dalam rapat anggota. Dalam menjalankan tugasnya, pengurus bertanggung jawab terhadap rapat anggota. Atas persetujuan rapat anggota pengurus dapat mengangkat manajer untuk mengelola koperasi. Namun pengurus tetap bertanggung jawab pada rapat anggota.
Pengawas
Pengawas adalah suatu badan yang dibentuk untuk melaksanakan pengawasan terhadap kinerja pengurus. Anggota pengawas dipilih oleh anggota koperasi di rapat anggota. Dalam pelaksanaannya, pengawas berhak mendapatkan setiap laporan pengurus, tetapi merahasiakannya kepada pihak ketiga. Pengawas bertanggung jawab kepada rapat anggota
Lambang Koperasi Indonesia
Lambang gerakan koperasi Indonesia memiliki arti sebagai berikut :
1. Rantai melambangkan persahabatan yang kokoh.
2. Roda bergigi menggambarkan upaya keras yang ditempuh secara terus menerus.
3. Kapas dan padi berarti menggambarkan kemakmuran rakyat yang diusahakan oleh koperasi.
4. Timbangan berarti keadilan sosial sebagai salah satu dasar koperasi.
5. Bintang dalam perisai artinya Pancasila, merupakan landasan ideal koperasi.
6. Pohon beringin menggambarkan sifat kemasyarakatan dan kepribadian Indonesia yang kokoh berakar.
7. Koperasi Indonesia menandakan lambang kepribadian koperasi rakyat Indonesia.
8. Warna merah dan putih menggambarkan sifat nasional Indonesia.
Minggu, 04 Oktober 2009
MY REGRET
Malam itu hujan mengguyur bumi bagaikan tangisan ribuan para malaikat yang tercurah membasahi bumi…. aku sangat lelah sekarang….. aku menangis sampai seluruh wajahku memerah. Kamu seorang yang terlalu sempurna untuk kucinta. Orang selalu melihat kamu sempurna dari balik matanya. Mungkin hanya kamu yang mampu mengerti akan rinduku yang pilu padamu, pasti hanya kamu yang sanggup membaca rasa apa yang terpancar dari penyesalan ini. Dan inginku hanya kamu yang mampu… Hanya Kamu
Langganan:
Postingan (Atom)

